Daftar
MASUK
komseling_kkf

Artikel

02 September 2016 | dibaca 4.929 kali

YES, It's OK to Say NO!

YES, It's OK to Say NO!

Maaf ya. Kami membaca proposal anda langsung pada bagian belakang untuk bisa baca angka penawarannya. Kalau mahal maka artinya tidak sesuai dengan prinsip utama kami: yang penting murah. Bisa dong tolong dikurangi?" Nah, kira-kira apa reaksi anda saat membaca pesan tersebut terlebih jika ditujukan kepada anda sebagai penyedia jasa atau barang? Apakah dengan serta merta langsung mendiskon sesuai keinginan calon klien?
Jika ini jawaban anda maka dipastikan anda sama dengan 90% pelaku bisnis di republik ini. Bukankah klien apalagi calon klien adalah raja? Bukankah tidak baik menolak rezeki? Jangan-jangan nanti tidak ada lagi yang mau berbisnis dengan kita? Sepatutnya apapun kemauan mereka asal masih bisa berujung pada keuntungan ya kenapa tidak dipenuhi saja?

Menyenangkan orang (baca: calon klien, rekan bisnis, si boss, keluarga dll) adalah hal baik, namun mencoba menyenangkan semua orang hampir selalu tidak akan berakhir baik. Percayalah, anda tidak akan sanggup memenuhi keinginan semua orang tidak peduli sekaya, sehebat atau sebaik apapun ada. Jawaban "ya" atas kasus diatas mungkin akan memastikan pekerjaan diperoleh saat itu, namun ongkos apa saja yang harus dibayarkan selain diskon? Fokus pada harga murah tanpa pemahaman soal nilai jasa / barang adalah indikasi bahwa hubungan yang akan muncul sepenuhnya transaksional. Artinya saat nanti muncul tawaran lebih murah dari penyedia jasa lain, maka dengan serta merta bisnis akan berpindah. Lebih jauh dari itu, dalam jangka panjang upaya memenuhi semua keinginan dari sia-papun akan berujung pada salah satu problem utama dalam bekerja, berkarier dan berbisnis: Kenapa bisnis saya / saya sendiri sulit sekali memperoleh perhatian?

Proudly exclude people from your team, your schedule & your life. Ya, terdapat korelasi nyata antara keinginan untuk memuaskan semua orang dengan ketiadaan perhatian yang memadai. Mengatakan "ya" pada semua tawaran, ajakan dan permintaan sama saja dengan secara perlahan namun pasti menutup peluang membangun jati diri dan keunikan diri. Bayangkan restoran yang membuka tempatnya untuk perokok dan nonperokok? Bisa dipastikan semua non perokok akan keberatan saat satu pengunjung perokok mulai menyulut rokoknya. Bayangkan juga restoran yang menawarkan semua menu makanan tanpa keistimewaan tertentu? Atau saat sebuah siaran televisi berusaha memenuhi keinginan semua kelompok umur dan seluruh demografis? Dan sebagainya.

There is nothing bad about saying "no"and saying "yes" is not always good. Dunia ini teramat luas dan tidak semuanya perlu dilayani. Memfokuskan 100% upaya untuk pasar kecil dan spesifik katakanlah yang 1% jauh lebih baik daripada mencoba membagi upaya 100% pada 99% potensi pasar yang lain. Seringkali mengatakan "tidak" jauh lebih bijak daripada mengatakan "ya" secara terus menerus.

Alasan lain mengatakan "tidak" pada 99% yang tidak mungkin terlayani adalah bahwa ka-bar penolakan anda pasti akan terdengar oleh 1% kelompok yang memang harus anda layani. Jika anda pada posisi mereka, tidakkah anda merasa istimewa dan diistimewakan? Yes, it's okay to say no. Know that focusing to something or someone is about saying no to many others. Those who try to be everything to everyone shall always end up being nothing to anyone.

Photo #UltimateUScrapBook by @cindysaja

Pernah mengatakan "tidak" dalam situasi tertentu yang justru berujung pada kebaikan bagi anda? Ceritakan. Saya akan sangat tertarik membacanya. Kirim tulisan, cerita dan komentar ke rene.canoneo@gmail.com / twitter & Instagram: @ReneCC

 

Artikel Lainnya


Gallery